Saat melewati jalan tol saya melihat papan iklan dengan tulisan ‘how low can you go’ saya teringat survey yang dilakukan di Amerika oleh Lincoln Financial Group dan Money Management, tahun 1999 yang menurut saya pribadi informasi ini cukup relevan digunakan sebagai gambaran di Indonesia saat ini.

Dalam survey yang dilakukan kepada sejumlah responden yang adalah pekerja dan para pensiunan, ditanyakan: “Usia berapakah seseorang sebaiknya mulai mempersiapkan pensiun?” Jawabannya adalah usia 22 tahun. Sehinggga jadilah tulisan Wealth Management ini bertema: How long is too soon, berapa lamakah yang dimaksud dengan terlalu cepat?
Nilai Ekonomi Manusia – Hubungannya Dengan Wealth Management
Pada suatu kesempatan, saya bertemu dengan banyak teman-teman yang lebih dari 20 tahun tidak pernah bertemu. Entah kenapa, kami tidak saling bertanya kerja dimana? Tetapi bisnis apa, fren? Iya juga ya, hari begini, jaman tekanan resesi ekonomi global, tentu saja, kalau hanya mengandalkan gaji akan berat. Ibaratnya sama seperti investasi dengan hanya mengandalkan instrumen produk-produk perbankan seperti deposito, rendahnya bunga deposito akan habis terbawa arus nilai inflasi. Belum lagi pengurangan pajak, maka akan mengakibatkan nilai pengembaliannya semakin kecil. Jadi kesimpulannya, pertanyaan saya dan teman-teman saya itu memang valid: ‘bisnis apa, fren?’
Beberapa teman langsung menanggapi bahwa kesulitan ekonomi pada kondisi resesi seperti ini memaksa kita untuk berpikir keras bagaimana menemukan peluang, sehingga memicu kita untuk mampu melihat berbagai potensi peluang. Lalu beberapa teman ada yang mulai menghitung, berapa lama lagi harapan hidup, supaya bisa memperhitungkan rencana investasi dengan matang sejak saat ini.
Berikut adalah sebuah teori tentang bagaimana menghitung nilai ekonomi manusia.

Data pada tabel Ilustrasi Nilai Ekonomi Manusia adalah sbb.:
- A-B Usia kelahiran atau dependency (birth to self- sufficiency).
- B,C,D,E,F Usia Produktif, dimana selain mencari income adalah juga saat untuk mencukupi diri sendiri,termasuk anak dan orangtua, jika masih ada dan tidak mampu dan masa mempersiapkan pension.
- F adalah usia pensiun, dimana biaya kehidupan sehari-hari dipenuhi dari hasil bekerja selama usia produktif.
Pendapat saya mengenai persiapan pensiun pada usia 22 tahun bersumber pada World Health Report 1998 dari World Health Organization 1998 yang melakukan perbandingan usia harapan hidup, usia harapan hidup sehat, dan persentasi hidup non produktif, seperti tabel disamping ini.
Di Indonesia datanya berturut-turut adalah sbb.:

Saya katakan kepada teman-teman, menurut TEORI WEALTH MANAGEMENT, ada tiga pilar dalam ilmu Wealth Management untuk mengelola kekayaan secara menyeluruh yaitu: melindungi kekayaan (wealth protection and preservation), menumbuhkan dan menambah kekayaan (wealth growth and accumulation) dan persiapan pensiun dan pembagian kekayaan (wealth distribution and transition). LOAN atau pinjaman ada pada pilar menumbuhkan dan menambah kekayaan (wealth growth and accumulation).
Pada gambar saya meletakkan pilar I : Wealth Protection & Preservation (melindungi kekayaan) dan pilar II : Wealth Growth & Accumulation (menumbuhkan dan menambah kekayaan) pada kurva yang menghubungkan garis B,C,D,E,F atau Usia Produktif.

Kembali kepada pertanyaan, sebagai orang Indonesia, berapa lama lagi hidup? Berapa lama harusnya sudah menabung? Wah, semua menghitung. Sebagian mulai mengatakan sudah terlambat sepuluh tahun, sebagian sudah mulai menabung lima tahun yang lalu. Sebagian juga mengatakan bahwa tidak mungkin untuk menabung. Saya mendengarkan dengan seksama dan menyambung pembicaraannya dengan perkataan: “Yang seperti ini namanya Sandwich Generation. Semua pendapatan habis teralokasi menutupi kebutuhan hidup karena selain diri sendiri dan keluarga juga orang tua dan sanak keluarga”. Lalu saya menyarankan untuk mulai mempersiapkan diri, atau anak-anak sebagai generasi yang akan datang akan mengalami hal yang sama dengan orang tuanya seperti saat ini.
Sandwich Generation

Bagaimana caranya, menyelesaikan masalah Sandwich Generation?
- Pertama adalah berbicara dengan keluarga besar untuk menanggung kebutuhan ini bersama-sama.
- Ke dua adalah menata ulang keuangan saat ini dan tetapkan berapa yang harus dipersiapkan serta berapa lama waktu yang tersedia.
- Lakukan prioritas
- Mulai mencari kesempatan yang tersedia dan memungkinkan untuk dikerjakan bersama-sama keluarga.
Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi ini benar-benar terjadi. Seorang kenalan,tiba-tiba (maaf) suaminya meninggal dan jadilah ibu serta anak-anak berpikir bagaimana melunasi pinjaman rumah. Beruntung, pinjaman memiliki asuransi jiwa, sehingga keluarga yang ditinggalkan tidak perlu melunasi pinjaman. Saya menyarankan untuk mereka menjual rumah tersebut dan membeli lagi rumah yang agak kecil di pinggir kota sehingga sisanya bisa digunakan untuk modal usaha. Teman saya juga ternyata seorang yang sangat bijak sehingga dia menetapkan sejumlah uang dalam bentuk tabungan yang tidak pernah digunakan untuk cadangan sebanyak 10 kali jumlah penghasilan suaminya, sehingga bisa digunakan untuk biaya sekolah anaknya.
Jadi mulailah bertanya kepada diri sendiri, usia berapa kita perlu berhenti bekerja? Apakah saya justru memulai usaha saya setelah pensiun atau justru pada saat masih bekerja saya harus mencari pekerjaan sampingan, menjadi konsultan atau mengambil franchise misalnya? Berapa banyak yang saya perlukan pada masa pensiun, dimana saya mau menghabiskan masa hidup saya dengan pola konsumsi yang telah saya tetapkan?.
Pertemuan berakhir, tetapi teman saya mengatakan punya home work ‘sesi’ how long is too soon - dengan pasangan masing-masing.








